Mudik lebaran itu rutinitas,, menurutku malah tak istimewa,, hanya ada beberapa hal yang membuatnya berbeda,, bukan karena hari, bukan karena tanggal,, tapi karena perbedaan hari perayaan yang lagi-lagi ada, karena salah strategi mudik yang membuatq harus menghabiskan 2 hari 2 malam di perjalanan, karena tak semua keluarga ada saat malam takbiran, dan karena aq bahkan harus merayakan lebaran berbeda hari dengan ibuq sendiri,, aneh memang,,
Tapi banyak yang istimewa saat perjalanan pulang ke Bogor,, lewat jalur selatan yang ga pernah q lewati,, melihat keindahan bumi selatan Jawa yang dikelilingi pegunungan, persawahan, dan hutan-hutan jati,, asri memang, saat pagi hingga siang hari,, namun malam harinya agak mencekam,, mau tak mau harus menahan diri untuk tidak tidur hanya untuk melihat tanda penunjuk jalan,, sempat nyasar, lewat jalan yang ga dilewati satupun kendaraan bermotor maupun manusia,,
Jalur selatan lebih menantang,, lebih banyak tikungan, lebih bergelombang,, sebanding dengan panorama yang tersaji seluas mata memandang,, perjalanan ini juga menjadi semacam wisata belanja dan wisata kuliner, walaupun tetap tak lepas dari acara silaturrahmi,, singgah di berbagai kota dan mencoba makanan khas tiap kota yang disinggahi,,
Indahnya gunung Carmel di Semarang, gunung Slamet, gunung-bukit lainnya yang belum q kenal namanya sedikit menjadi penawar candu bagi jiwa petualang yang lama terpasung,, cukup melihat saja telah menggugah ego untuk menaklukkan puncaknya, walaupun entah kapan akan terlaksana akhirnya,, singgah di Jogja yang membangkitkan nostalgia kompetisi mengingatkan pada mozaik memori yang lama terpendam,, belum ditambah dengan saksi bisu puing bangunan akibat muntahan lahar Merapi yang terserak di kanan kiri jalan,,
Sebanding, dengan perjalanan 4 hari 3 malam,, dengan tumpangan yang semakin penuh sesak oleh benda-benda mati yang mencirikan berbagai daerah,, aneka panganan yang ditebus oleh lembaran kertas berharga hanya karena rasa penasaran dan rasa ingin tahu,,
Widan09